Ide Cerita | —¤(rIDa)¤—

Ide Cerita

Stop Dreaming Start ActionImage via Wikipedia

Pengalaman Hidup dan Sikap Hidup sebagai Sumber Ide
Idealnya suatu ide cerita merupakan hasil pengendapan dan perenungan pengalaman hidup yang panjang dari seorang pengarang. Semakin banyak pengalaman hidup seseorang semakin banyak pula idenya. Jika demikian apakah berarti bahwa untuk menjadi penulis cerita seseorang harus sudah cukup panjang perjalanan hidupnya (sudah berumur) dan sudah mengalamai persoalan yang spektakuler ? Jawabnya, tidak harus. Seseorang yang berkeinginan memupuk kemampuannya dalam mengembangkan ide hanya butuh sikap lebih cermat dalam menyerap berbagai fenomena yang terjadi di sekitarnya.

Dengan bantuan panca indra, pikiran dan perasaannya, seorang penulis dapat menangkap berbagai fenomena tersebut dan menyerapnya sebagai intuisi. Banyak sekali ide cerita film di sekitar kita. Sebagai permulaan dapat dipilih ide-ide yang memungkinkan diwujudkan tanpa melibatkan banyak dana. Untuk format film indie, yang umum diangkat adalah film cerita, meskipun bisa juga genre film lainnya. Pada 1999 ketika Komunitas Film Independen (Konfiden) mengadakan Festival Film Pendek, keluarlah sebagai pemenang sekelompok SMU di Jakarta yang mengangkat tema sederhana, yakni seorang siswa yang gelisah di sekolah ingin cepat-cepat pulang. Begitu jam sekolah berbunyi berhamburanlah mereka keluar kelas. Di perjalanan, dia harus melewati banyak rintangan sampai akhirnya tiba di rumahnya. Sesampai di rumah, ia langsung menyalakan TV dan memelototi film telenovela. Ceritanya cukup sederhana, tetapi film ini mendapat banyak pujian, termasuk dari dedengkot film, Garin Nugroho. Kalau kita lihat beberapa film independen Indonesia yang berjaya di luar negeri, ceritanya juga tidak terlalu rumit, malah cenderung sederhana. Akan tetapi, kesederhanaan yang mereka tampilkan bersifat sangat universal sehingga bangsa mana pun mudah memahami. Perlu diingat, film-film independen yang sering tampil di forum internasional tentunya sudah melewati pertimbangan universalitas tersebut. Kendala bahasa juga dapat diatasi. Dengan bahasa gambar, semua orang atau semua bangsa dapat memahami. Apalagi ditunjang oleh “bahasa penikmat” tempat film tersebut ditonton, sempurnalah sebuah film independen.

Sebagai pembuka wawasan, seorang penulis ide cerita dapat memperbanyak menonton film-film terdahulu. Bisa juga memperbanyak wawasan dengan membaca ringkasan atau ulasan tentang film-film terdahulu. Pada buku Mari Membuat Film Indie Askurifai melampirkan ringkasan sekitar tiga puluh film independen yang pernah diputar di K.A. Argo Gede. Juga ada beberapa film Perancis yang pernah digelar oleh CCF di beberapa kota besar di Indonesia. Di antara film-film tersebut, yakni Kereta Pertama (durasi 11 menit) yang menceritakan seorang anak tukang jaga pintu kereta api. Di suatu hari, ia harus menggantikan pekerjaan ayahnya menutup pintu lintasan kerata. Hal ini terjadi karena ayahnya mendadak sakit dan tidak bisa bangun. Film berjudul Bambang (durasi 10 menit) berkisah tentang seorang penari sebuah grup wayang tradisional yang hidup sampingannya sebagai tukang becak. Setiap hari ia berjuang agar tidak terlambat saat pertunjukan tiba. Ia tidak segan-segan berdandan di atas bus umum. Jakarta 468 (11 menit) yang bertutur tentang seorang pendatang harus memilih tetap sebagai gelandangan di Jakarta atau harus pulang kampung. Pilihannya itu merupakan keputusan besar yang akan mengubah hidupnya. Anugrah yang Indah (14 menit) bercerita pada suatu hari seorang anak gadis menjadi remaja. Tandanya ia mendapatkan darah di celananya. Karena ia belum pernah mendapatkan pengalaman itu sebelumnya, darah pertama itu menjadi persoalan besar bagi kehidupannya. Nurani (8 menit) berkisah mengenai Nurani nama seorang gadis lugu. Ia terpedaya oleh pacarnya yang tidak bertanggung jawab. Ia dipaksa untuk menggugurkan kandungannya karena pacarnya tidak mau menikahinya. Di akhir cerita, ia tetap akan membesarkan anak yang dikandungnya sendiri.

Selain itu ada film Bawa Aku Terbang (13 menit) yang bertutur tentang seorang anak kurang mendapat perhatian dari orangtuanya. Jalan keluarnya ia lebih akrab dengan burung merpatinya daripada kehidupan keluarga yang harmonis. Happy Ending (12 menit) berkisah tentang dua anak dua rumpun bangsa. Mereka bermain perang-perangan seperti dalam film, bahkan seperti dalam wayang Bharata. Pada suatu hari, permainan itu menjadi tragedi. Parto yang pribumi mati tertusuk oleh Stave. Walkman (13 menit) berkisah tentang seorang anak tunggal yang menginginkan walkman dan minta kepada kedua orangtuanya. Akan tetapi, keinginan anak itu tidak dikabulkan sehingga ia kabur. Kedua orangtuanya kebingungan mencari anak semata wayangnya itu. Sonata Kampung Bata (13 menit) mengangkat cerita rutinitas seorang anak pembuat batu bata di sebuah desa di pinggir Jakarta, terpecahkan saat serombongan komedi putar datang di desa tempat ia tinggal. Ia mengenal anak pemilik komedi putar yang mengajak bermain.

Melihat tema-tema tersebut tampak sekali semuanya sering kita dapati di sekitar kita. Cerita-cerita itu sudah begitu akrab dengan kehidupan kita sehari-hari. Akan tetapi, sering kita lupa atau bahkan melupakan hal-hal yang ada di sekitar kita karena tidak ada sikap yang menyengaja untuk menyerap ide tersebut. Setelah melihat tayangan film-film dengan tema-tema sederhana tersebut, barulah kita sadar bahwa tema sederhana juga mampu mempesona penonton asing di luar negeri.

Ide Film
Seperti halnya menulis cerpen, artikel, atau feature (karangan khas), seseorang yang ingin terjun dalam penulisan skenario film, harus mempunyai banyak sumber ide tulisan. Supaya lebih mudah dipahami, di bawah ini dipaparkan beberapa contoh ide cerita yang didasarkan pada hal-hal sederhana.

Pengalaman Pribadi

Pengalaman pribadi seseorang bisa dijadikan ide film. Ini tentunya berkaitan dengan kejadian yang mengandung bobot ‘menghebohkan’, misalnya, film Ari Hanggara. Ide film ini jelas diambil dari pengalaman keluarga Ari Hanggara yang selalu keras menghukum sang anak sampai meninggal dunia. Selain itu ada juga film Sum Kuning, dan lainnya. Dalam film indie, pengalaman jauh lebih mudah untuk diwujudkan dalam bentuk film sebab hal ini dapat ditembus dengan mudah sebagai ekspresi kehidupan seseorang.

Percakapan Sehari-hari
Jika kita amati, dinamika masyarakat dalam aktivitas sehari-hari bisa menjadi inspirasi bagi penulis film. Obrolan antar karyawan di sebuah perusahaan sering menimbulkan hal-hal baru yang menarik sehingga bisa dijadikan ide cerita. Ketika sedang makan di warung makan, sering beberapa orang terlibat dalam percakapan, dari hal-hal lucu hingga yang serius. Dari obrolan warung makan ini, tentunya kita bisa mengambil salah satunya yang unik dan menarik untuk dijadikan cerita film. Dengan mengambil ide cerita semacam ini, cenderung calon penonton film akan merasa ada kedekatan dengan tema film. Dalam istilah jurnalistik, ada nilai proximity, yaitu sesuatu itu diangkat karena ada unsur kedekatan tempat dan kejadian dengan penontonnya. Selain unsur tersebut, sebuah film indie dengan tema percakapan sehari-hari bisa menyiratkan unsur intemacy, yakni aspek keintiman antara tema dengan penontonnya. Jika film independen yang anda garap sudah mempunyai dua unsur tersebut, bisa dipastikan para penonton pun merasa ‘terlibat’ di dalam film tersebut.

Biografi Seseorang
Kisah hidup seseorang sering menimbulkan haru atau suka cita. Antara keharuan dan suka cita inilah biasanya biografi seseorang diangkat dalam sebuah film. Hal yang mengandung keharuan biasanya dapat menguras air mata penontonya, sedangkan yang penuh suka cita membuat penontonnya girang tidak karuan. Akan tetapi, sering tragedi dalam kehidupan seseorang menarik untuk difilmkan karena menyiratkan sesuatu. Mungkin karena dia seorang pemikir, penemu iptek, politikus, penyanyi, pelukis, bahkan seorang penjahat besar sekalipun. Penulisannya cenderung nonfiksi karena sering memperlihatkan sejarah hidup seseorang secara utuh. Dengan pendekatan tema film seperti ini, para filmmaker dapat menampilkan siapa pun, termasuk para selebritis. Apalagi saat ini hampir seluruh stasiun tv menyiarkan acara infotainment. Itu artinya khalayak kita bisa disuguhi film indie tentang artis tertentu.

Komik Strip
Komik-komik yang banyak beredar di masyarakat juga bisa menjadi sumber ide cerita. Banyak komik Amerika diboyong menjadi tema film. Juga beberapa komik dalam negeri diangkat menjadi film seperti Wiro Sableng atau Si Buta dari Goa Hantu. Sebuah film anak-anak yang cukup sukses di pasaran adalah Dennis in the Manace. Film ini diangkat dari komik strip sebuah media massa Amerika yang mengisahkan nakalnya anak-anak. Jika kita, banyak komik strip mutahir yang bisa diolah menjadi film indie.

Novel
Kini banyak film dirilis berdasarkan novel laris, baik dalam negeri maupun luar negeri. Novel-novel karya John Grisham banyak sekali diangkat menjadi film dan hasilnya cenderung sukses, diantaranya, film The Firm. Film yang dimainkan dengan baik oleh Tom Cruise ini menarik dari aspek cerita ataupun penokohannya. Namun, novel-novel karya orang barat cenderung dikerjakan oleh para ahlinya. Artinya, seorang John Grisham tidak seenaknya menulis aspek hukum karena dia sendiri adalah seorang ahli hukum. Mungkin anda tidak perlu menjadi penulis novel terlebih dahulu, tetapi dari sebuah novel yang sudah beredar, anda bisa mentransfernya dalam bentuk film indie.

Musik
Kegemaran seseorang terhadap musik tertentu bisa membuahkan hasil berupa film bertema musik. Ada beberapa film yang diangkat berdasarkan kajian musik atau profesi pemusik bagi seseorang. Apalagi kini hampir di sudut kota ada kelompok-kelompok band indie yang kini mulai beranjak ke band industri. Jika anda piawai memboyong anak band tersebut dalam bentuk film indie, paling tidak penggemarnya akan menikmatinya. Olahraga dan Beladiri Prestasi seseorang dalam bidang olah raga sering mengilhami penulis film untuk mengangkatnya menjadi film menarik. Demikian juga dengan keahlian beladiri seseorang yang menonjol juga bisa membuahkan sebuah film bertema beladiri. Semua itu bias diwujudkan dalam film yang dikemas secara menarik. Film Ali yang dimainkan Will Smith (37) malah mendapat nominasi oscar 2002. Film-film laga seperti diperankan oleh Van Damme dan Steven Siegel mampu menjadikan ilmu beladiri menjadi komoditi film. Untuk jenis film ini, anda mudah sekali mewujudkannya. Misalnya, jika anda anggota klub beladiri, andapun bisa membuat film tentang beladiri yang sedang ditekuni.

Sastra
Bidang sastra juga tidak kalah menariknya jika diangkat menjadi film. Romeo and Juliet serta Hamlet merupakan bukti sastra dapat diusung dalam format film. Tinggal bagaimana penggarapannya sehingga memaksa penonton hanyut dalam alunan cerita filmnya. Contoh-contoh film yang dinukil itu memang lebih sebagai film panjang (mainstream), tetapi sebagai perbandingan saja bahwa film pendek pun bisa dikemas dengan tema-tema tersebut, asal anda siap dengan proses penggarapannya kelak. Menurut kurator film Islam, Rayya Makarim, melihat begitu banyaknya ‘calon’ ide film maka bagi seseorang yang ingin terjun menulis naskah film setiap hari diusahakan membaca koran dan majalah, menonton tv, sering ‘nguping’ obrolan banyak orang, dan rajin ke perpustakaan untuk membaca. Dari sumber-sumber inilah, seseorang akan bisa mengekspresikan gagasan dalam bentuk ide film.

Sumber: Kuliah OnLine



Stop Dreaming Start Action

Tulisan Terbaru:
Dikirim pada Hari Jumat, 08 Agustus 2008 telah dibaca oleh Pengunjung pada label Sinematografi untuk masuk kekotak komentar, silahkan klik disini..!! jadi pe Langganan: Posting Komentar (Atom) .
Buat temen temen yang menggeluti dunia pertelevisian dan sinematografi yang kebetulan nyasar ke blog ini dan mau berbagi ilmu dan Kesempatan kerjanya pengalamannya, Anda bisa mengirimkannya ke Form Email ini! dan kami dengan senang hati akan memuatnya di blog lnl. Thank's..!!

Lirik Lagu Doel Sumbang | Sinematografi | Kontes SEO | rida 2 komentar Di Ide Cerita

Sampaikanlah walau satu KATA..!! PERSIB

Blog ini menggunakan Thread Comment.
Ingin membalas komentar teman anda? — klik "[Reply / Balas]" kemudian tulis Balasan anda setelah kode yang terdapat pada kotak Reply!